
Masyarakat
transmigrasi yang ada dilingkungan kecamatan parenggean Kab.Kotawaringin Timur
Prov.Kalimantan Tengah adalah masyarakat yang berasal dari berbagai macam suku
, etnis, ras dan Agama dan secara kebetulan Masyarakat yang ada diwilayah
lingkungan Kec. Parenggean mayoritas beragama Islam. Sebagaimana yang
diketahui bahwa , masyarakat
transmigrasi ditempatkan oleh pemerintah disuatu tempat bertujuan untuk
mengurangi kepadatan penduduk, memperluas lapangan pekerjaan dan memberdayakan
potensi alam yang belum terpakai. Sebagai masyarakat yang religius atau
beragama, maka masyarakat Tran dan umum
merasa tidak hanya memerlukan pekerjaan untuk mempertahankan dan
meningkatan tarap kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya namun sesuatu yang
dirasakan tidak kalah pentingnya bagi mereka adalah kegiatan dan bimbingan
keagamaan didalam kehidupan mereka sehari – hari untuk mempererat hubungan
mereka dengan sang pencipta dan mendapatkan keselamatan hidup dunia dan
akhirat, maka sekitar 5 tahun pasca kerusuhan Madura dan Dayak, masyarakat lingkungan transmigrasi sudah
merasa kegiatan ibadah dan bimbingan keagamaan sudah mengalami kemunduran yang
sangat memperihatinkan, bahkan hampir nyaris masyarakat yang ada sudah tak lagi
menunjukkan identitasnya sebagai masyarakat yang religius atau beragama.
Sekitar tahun
2006, masyarakat dari beberapa Desa
mengadakan musyawarah untuk membahas suatu upaya untuk menanggulangi
situasi itu dan merekapun bersepakat untuk mengundang seorang da’i dari luar
daerah, dan waktu itu da’i yang diundang dari luar daerah tersebut adalah
seorang Kiyai yang berasal dari pulau Lombok Nusa Tenggara Barat yaitu KH.
Faisal Hadi,QH. Beberapa waktu KH. Faisal Hadi, QH berkeliling menyampaikan
da’wah Islamiyah dari Desa-ke Desa, dari satu tempat – ketempat yang lain dan
begitu seterusnya, sambutan masyarakat terhadap da’wah islamiyah yang
disampaikan sang kiyaipun ternyata disambut sangat baik dan penuh antusias
laksana menyiram tanaman jagung dimusim kemarau, semangat keagamaan masyarakat
sangat begitu besar dan tumbuh begitu subur. Namun keadaan itu ternyata tidak
berlangsung lama, hanya beberapa bulan saja, lantaran sang kiyai harus kembali
ke Lombok, keadaanpun mulai sepi seperti sebelumnya dan ini membuat masyarakat
sangat rindu suasana-suasana peribadatan yang membahagiakan hati tersebut, maka
tidak tega melihat kondisi itu, beberapa tokoh masyarakat dari berbagai desa
kembali bermusyawarah untuk mencari da’i yang bisa menetap dalam kurun waktu
yang lama supaya bimbingan keagamaan bisa spenuhnya didapatkan oleh masyarakat
sesuai dengan yang mereka harapkan. Kemudian berdasarkan hasil musyawarah
dihubungilah kembali KH. Faisal Hadi,QH yang ada di Lombok NTB untuk dimintai
bantuannya mencari da’i yang bisa menetap lama dilingkungan Masyarakat
transmigrasi saat itu, kemudian dari sebuah Organisasi Islam Kemasyarakatan
Ahlussunnah Wal-Jamaah bermazhab Syafi’i r.a yaitu Organisasi Nahdlatul Wathan
diutuslah salah seorang santri terbaiknya untuk memenuhi tuntutan masyarakat
tersebut yaitu Ust. Saiful Hadi, QH.S.HI,MM . selanjutnya Ust. Saiful Hadi,
QH.S.HI.MM melanjutkan da’wah islamiyah yang pernah disampaikan oleh KH.Faisal
Hadi,QH tersebut, dan terbentuklah majlis-majlis ta’lim diberbagai tempat
diseluruh desa-desa dan lembaga-lembaga diniyah untuk anak usia dini yang
berstatus Non formal, dan dari semua majlis-majlis ta’lim serta diniyah/TPA
itu, Ust.Saiful Hadi,QH.S.HI.MM bersama
masyarakat bersepakat mendirikan sebuah Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren yang
mengelola beberapa jenjang pendidikan formal dan non formal dibawah binaan Kementerian
Agama Republik Indonesia Kabupaten Kotawaringin Timur yang berjalan sampai saat
ini.